Pandu Satriya Hutama*, Pramesi Lokaprasidha, Nafis
Usaha Perjalanan Wisata, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, Universitas Jember
Warda Ayu Berliana
Manajemen Pariwisata, Sekolah Tinggi Pariwisata Sahid Surakarta, Surakarta
DOI: https://doi.org/10.19184/bisma.v19i3.53690
ABSTRACT
Religious tolerance is a crucial social capital for harmony and sustainable development. This research focuses on Sukoreno Village, Jember, East Java, which possesses religious diversity (Islam, Catholicism, Hinduism) and native spiritual beliefs, along with natural potential that allows for the integration of tolerance values into tourism development. The main objective of this study is to map existing religious tolerance practices and analyze their potential as a strategic foundation for developing a sustainable religious tourism village. The study employs a qualitative approach using the case study method. Data was collected through in-depth interviews with religious figures, traditional leaders, and business actors, participant observation, and documentation study. Data was analyzed thematically following the interactive model of Miles and Huberman. The results indicate deeply rooted tolerance practices, manifested in mutual cooperation (gotong royong) in building and maintaining places of worship, as well as inclusive religious holiday celebrations. This social capital is identified as a primary strength that has the potential to be developed into unique tourism products, such as live-in programs and the thematic "Traces of Harmony" (Jejak Kerukunan) tourism package. Nevertheless, the main challenges lie in infrastructure and human resource (HR) capacity. It is concluded that religious tolerance proves to be a strategic asset and a major attraction that ensures the sustainability of Sukoreno Religious Tourism Village. The implementation of community-based tourism policies is highly recommended as a follow-up measure.
Keywords: Development, Social Capital, Sustainability, Tolerance, Tourist Village
ABSTRAK
Toleransi beragama merupakan modal sosial yang krusial untuk keharmonisan dan pembangunan berkelanjutan. Penelitian ini berfokus di Desa Sukoreno, Jember, Jawa Timur, yang memiliki keragaman agama (Islam, Katolik, Hindu) dan aliran kepercayaan, serta potensi alam yang memungkinkan integrasi nilai toleransi ke dalam pengembangan pariwisata. Tujuan utama studi ini adalah memetakan praktik toleransi beragama yang ada dan menganalisis potensinya sebagai fondasi strategis untuk pengembangan desa wisata religius yang berkelanjutan. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam dengan tokoh agama, adat, dan pelaku usaha, observasi partisipan, serta studi dokumentasi. Data dianalisis secara tematik menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan praktik toleransi yang mengakar kuat, terwujud dalam gotong royong pembangunan/perawatan tempat ibadah serta perayaan hari besar agama yang inklusif. Modal sosial ini teridentifikasi sebagai kekuatan utama yang berpotensi dikembangkan menjadi produk wisata unik, seperti program live-in dan paket wisata tematik "Jejak Kerukunan". Meskipun demikian, tantangan utama terletak pada aspek infrastruktur dan kapasitas sumber daya manusia (SDM). Disimpulkan bahwa toleransi beragama adalah aset strategis dan daya tarik utama yang menjamin keberlanjutan Desa Wisata Religius Sukoreno. Implementasi kebijakan pariwisata berbasis komunitas disarankan sebagai langkah tindak lanjut.
Keywords: Berkelanjutan, Desa Wisata, Modal Sosial, Pengembangan, Toleransi
Published
30-11-2025
Issue
Vol. 19 No. 3 (2025) Bisma: Jurnal Bisnis dan Manajemen
Pages
228-237
License
Copyright (c) 2025 Bisma: Jurnal Bisnis dan Manajemen