M Abd Nasir
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Universitas Jember
Adhitya Wardhono
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam, Universitas Jember
DOI: https://doi.org/10.19184/bisma.v12i3.9005
ABSTRACT
Cassava is one of the commodities in the agricultural sector that has the opportunity to be cultivated and marketed on a larger scale. However, the threat were found that involved cassava trading institutions so the cassava distribution channel was also constrained. This study aims to (1) identify institutional patterns manage cassava farming, namely related stakeholder relations patterns, related rules and transaction costs in managing cassava farming; (2) implement and evaluate the business development model and the cassava farming business institutions. The method used is quantitative and qualitative in the form of existing data and tabulation of perceptual data through in-depth interview techniques. The analytical techniques used are quantitative descriptive, qualitative approaches and Value Chain Analysis. Institutional phenomena are also examined in the cassava commodity trade chain, namely social capital, and transaction costs. The results showed that the cassava trading chain in Gumukmas District involved 6 economic actors, namely (1) pure farmers; (2) industrial farmers; (3) Traders, (4) small industries; (5) large industries; (6) and consumers. The institutional trade in cassava is not intervened by government policies or farmer groups. The Institutions produced strong social capital that can decreasedthe transaction costs.
Keywords: Value Chain, institutional, Cassava Farmer Business
ABSTRAK
Singkong merupakan salah satu komoditas di sektor pertanian yang memiliki peluang untuk dibudidayakan dan dipasarkan dalam skala yang lebih besar. Namun, ditemukan hambatan yang melibatkan kelembagaan perdagangan singkong sehingga alur pendistribusian singkong mempunyai hambatan. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengidentifikasi pola kelembagaan dalam pengelolaan usaha tani singkong yaitu pola hubungan stakeholder terkait, aturan terkait dan biay transaksi dalam pengelolaan usaha tani singkong; (2) melakukan implementasi dan evaluasi terhadap model pengembangan usaha dan kelembagaan usaha tani singkong. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dan kualitatif berupa existing data dan tabulasi data persepsi melalui teknik in depth interview. Teknik analisis yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif, pendekatan kualitatif dan Analisis Rantai Nilai (Value Chain Analysis). Fenomena kelembagaan turut dikaji dalam rantai perdagangan komoditas singkong yaitu modal sosial dan biaya transaksi. Hasil penelitian menunjukan bahwa rantai perdagangan singkong di Kecamatan Gumukmas melibatkan 6 pelaku ekonomi yaitu (1) petani murni; (2) petani industri; (3) Pedagang, (4) industri kecil; (5) industri besar; (6) konsumen akhir. Kelembagaan perdagangan singkong tidak diintervensi oleh kebijakan pemerintah maupun kelompok tani. Kelembagaan menghasilkan modal sosial yang kuat yang dapat meminimalisir keberadaan biaya transaksi.
Keywords: Rantai Nilai, kelembagaan, Usaha Tani Singkong
Published
2018-09-17
Issue
Vol. 12 No. 3 (2018) Bisma: Jurnal Bisnis dan Manajemen
Pages
361-376
License
Copyright (c) 2025 Bisma: Jurnal Bisnis dan Manajemen